pendidikan anak berkebutuhan khusus
FAKTOR-FAKTOR ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS SERTA
IDENTIFIKASI DAN KLASIFIKASI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
A. Definisi Anak Berkebutuhan Khusus
Anak dengan kebutuhan khusus adalah anak yang membutuhkan layananatau perlakuan khusus untuk mencapai perkembangan yang optimal sebagai
akibat dari kelainan atau keluarbiasaan yang disandangnya.Pengertian inimenunjukan bahwa tanpa pelayanan atau perlakuan khusus mereka tidak dapat
mencapai perkembangan yang optimal, termasuk kebutuhankhusus dalamLayanan pendidikan. Layanan kebutuhan khusus harus disesuaikan dengan jenis
dan tingkat kelainannya, karena masing-masing jenis dan tingkat kelainan anakmembutuhkan layanan yang berbeda, Untuk itu, diperlukan pemahaman yangbaik tentang anak-anak yang membutuhkan layanan pendidikan khusus didalammerancang program pendidikannya3
.
Berikut definisi anak berkebutuhan khusus berdasarkan buku psikologi
anak berkebutuhan khusus4
:
1. Anak Berkebutuhan Khusus Fisik
a. Anak dengan Gangguan Penglihatan (Tunanetra)Tunanetra mengalami hambatan penglihatan dalam memperoleh informasi. Tunanetra merupakan salah satu tipe anak berkebutuhan khusus (ABK), yang mengacu pada hilangnya fungsi indera visual seseorang. Untuk melakukan kegiatan kehidupan atau berkomunikasi
dengan lingkungannya mereka menggunakan indera non-visual yang masih berfungsi, seperti indera pendengaran, perabaan, pembau, dan perasa (pengecapan). Namun dari segi kecerdasan sebagian besar tunanetra tidak dipengaruhi oleh ketunaannya, kecuali bagi mereka yang mengalami kelainan ganda (double handicaped). Hanya saja tunanetra
mengalami kesulitan untuk pembentukan ataupunpenerimaan gagasan yang bersifat abstrak.
b. Anak dengan Gangguan Pendengaran (Tunarungu)
Istilah tunarungu digunakan untuk orang yang mengalami
gangguan atau ketidakmampuan dalam hal pendengaran, mulai dari tingkatan yang ringan sampai yang berat sekali yang diklasifikasikan ke dalam tuli (deaf) dan kurang dengar (Hard of hearing). Orang yang tuli adalah orang yang mengalami kehilangan pendengaran (lebih dari 70 dB)
yang mengakibatkan kesulitan dalam memproses informasi bahasa melalui pendengarannya sehingga ia tidak dapat memahami pembicaraan orang lain baik dengan memakai maupun tidak memakai alat bantu dengar.
c. Cerebral Palsy
Cerebral palsy merupakan gangguan neuromotor yang disebabkan oleh luka/ kerusakan pada otak atau spinal cord (kerusakan neurological)yang juga mempengaruhi kemampuan untuk menggerakan bagian-bagian
tubuh manusia (gangguan motorik). Gangguan ini dapat diasosiasikan dengan luka pada otak karena infeksi pada janin, saat kesulitan persalinan, dan atau keadaan setelah kelahiran yang menyebabkan jejas/ luka pada otak. Beberapa hambatan yang mempersulit/memperparah
keadaan anak-anak yang mengalami cerebral palsy terlebih jika tergolong berat antara lain: gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, hambatan berbicara, gangguan menelan, disabilitas intelektual, atau perilaku- perilaku yang menunjukkan ciri-ciri autistik.
2. Anak Berkebutuhan Khusus Kognitif
a. Intellectual Disability
intellectual disability (selanjutnya disingkat ID) sebagai keadaan yang muncul sebelum individu mencapai usia 18 tahun, yang ditandai dengan adanya keterbatasan yang signifikan terhadap fungsi intelektuadan perilaku adaptif, antara lain kemampuan konseptual, sosial, dan keterampilan praktis.
b. Kesulitan Belajar Spesifik (Specific Learning Disabilities/ SLD) Sebagaimana yang tercantum dalam DSM IV, bahwa seorang anak yang mengalami learning disabilities yaitu jika ia memiliki prestasi yang secara signifikan berada di bawah kemampuannya, di mana anak juga mengalami gangguan neurologis. Secara umum, Aldenkamp dkk, mengelompokkan beberapa learning disabilities sebagai berikut:
1) Primary learning disabilities. Gangguan yang menitikberatkan pada adanya gangguan yang bersifat neuropsikologis yang spesifik. Meliputi disleksia, disgrafia, dan diskalkulia.
2) Secondary learning disabilities. Gangguan belajar yang disebabkan oleh faktor perilaku, misalnya karena masalah motivasi.
3) Symptomatic learning disabilities. Gangguan belajar yang diakibatkan sebagai gejala ikutan karena adanya gangguan neurologis akut, misalnya trauma otak yang sangat parah.
3. Anak Berkebutuhan Khusus Perilaku (Hambatan Perilaku)
a. Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau yang dikenal dengan ADHD dapat diartikan sebagai hambatan dimana seseorang (anak) secara konsisten menunjukan salah satu atau semua karakteristiknya dalam waktu yang lama, karakteristik-karakteristik tersebut yaitu Inattention
(kurangnya perhatian), hiperaktif, dan Impulsif. Pada anak yang mengidap ADHD biasanya tiga atau setidaknya satu karakteristik tersebut muncul, dimana karakteristik tersebut digunakan sebagai suatu pertanda untuk melakukan diagnosis terhadap anak tersebut. Anak yang mengalami inattention memiliki kesulitan dalam memusatkan perhatian
mereka pada segala hal dan akan cepat mengalami kebosanan ketika dihadapkan pada suatu tugas tertentu.
b. Tunalaras (Gangguan Emosi & Perilaku)
Tunalaras dibedakan antara gangguan emosi dan gangguan
perilaku menyimpang. Anak dengan gangguan/hambatan emosional dapat digolongkan berperilaku neurotik. Perilaku tertentu yang menandakan adanya gangguan ini menunjukkan adanya regresi atau perkembangan yang lambat pada anak dalam menyesuaikan diri, seperti
sangat pemalu, takut dipisahkan dengan orang tua, rendah diri, dan cemas berlebihan. Anak dengan gangguan perilaku menyimpang ditandai dengan adanya delinkuensi sehingga mengakibatkan kesulitan atau hambatan untuk berhubungan dengan orang lain. Gejala yang timbul
misalnya melakukan vandalism, menodong, dan sering berkelahi.
4. Anak Berkebutuhan Khusus : Autis
Gangguan autis ini pertama kali ditemukan oleh Kanner pada tahun 1943 dan dirinya mendeskripsikan bahwa gangguan autis ini merupakan ketidakmampuan individu dalam berinteraksi dengan individu lainnya; adanya gangguan bahasa yang ditunjukkan oleh beberapa tanda,
yaitu: a) penguasaan bahasa yang tertunda, b) acholalia, c) mutest, serta d)
pembalikan kalimat; kemudian adanya aktivitas bermain yang repetitive dan sereotype, rute keinginan yang kuat, serta adanya keinginan obsesif dalam mempertahankan keteraturan pada lingkungannya.
5. Anak Berkebutuhan Khusus : Cerdas Istimewa
Anak cerdas istimewa (gifted children) adalah istilah yang
digunakan bagi seorang anak yang memiliki kecerdasan luar biasa atau melebihi rata-rata kecerdasan anak-anak seusianya. Istilah cerdas istimewa sering kali digunakan bersamaan dengan berbakat istimewa atau bertalenta, terlebih sebelum berkembangnya istilah cerdas istimewa telah berkembang dan digunakan terlebih dahulu istilah “berbakat inteligensi”
yang kemudian membingungkan dalam penerapannya jika ternyata anak
memiliki juga bakat/ talenta di beberapa bidang (termasuk non-akademis)
sekaligus. Sedangkan anak dapat dikategorikan sebagai anak berbakat
istimewa (talented children) jika anak tersebut memiliki potensi kreativitasyang tinggi sehingga mampu membuat suatu kreasi misalnya: seni, dengan
tingkatan yang luar biasa atau melebihi potensi dan prestasi anak-anak
seusianya. Berbakat/ bertalenta tidak mengacu pada tingginya potensi
inteligensi, artinya seorang anak bisa saja memiliki bakat yang luar biasa
meskipun inteligensinya tidak luar biasa.
B. Faktor- Faktor Anak Berkebutuhan Khusus
Kelainan pada anak-anak ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, baik dari
dalam diri maupun dari lingkungan luar. Faktor-faktor yang menyebabkan
kelainan pada anak berkebutuhan khusus sangatlah bervariasi dan kompleks.
Faktor genetik dan biologis sering menjadi penyebab utama, seperti adanya
mutasi genetik atau gangguan perkembangan selama kehamilan. Selain itu, faktor
lingkungan juga berperan penting, termasuk paparan zat berbahaya selama
kehamilan, gizi yang buruk, serta kondisi kesehatan ibu saat mengandung. Faktor
sosial dan psikologis, seperti stres yang dialami ibu selama kehamilan, kekerasan
dalam rumah tangga, dan kurangnya stimulasi serta perhatian pada anak, juga
berkontribusi terhadap risiko terjadinya kelainan pada anak. Memahami berbagai
faktor penyebab kelainan pada anak berkebutuhan khusus sangat penting untuk
memberikan intervensi dan dukungan yang tepat bagi mereka. Dengan
penanganan yang sesuai, anak-anak ini dapat mengembangkan potensinya secara
maksimal dan menjalani kehidupan yang lebih baik5
.
Berikut faktor-faktor anak berkebutuhan khusus berdasarkan buku psikologi
anak berkebutuhan khusus6
:
1. Anak Berkebutuhan Khusus Fisik
a. Anak dengan Gangguan Penglihatan (Tunanetra)
Terdapat berbagai faktor kerusakan penglihatan yang terjadi sejak
masa prenatal atau sebelum anak dilahirkan, pada proses kelahiran
maupun pasca lahir.
1) Kerusakan penglihatan prenatal
Congenital blindness merupakan kerusakan penglihatan sejak lahir
yang dapat disebabkan oleh berbagai macam penyebab, seperti:
keturunan dan atau gangguan ketika ibu hamil (Infeksi yang
ditularkan oleh ibu pada janin)
2) Kerusakan penglihatan pasca lahir
a) Terjadi kesalahan pada proses persalinan akibat adanya benturan
alat-alat maupun benda keras.
b) Adanya penyakit ibu yang ditularkan pada saat proses persalinan
(misal:Gonorrhoe).
c) Memiliki penyakit yang menyerang mata (misal: xeropthalmia,
catarac, trachoma, glaucoma, astigmatism, dll)
d) Mengalami kecelakaan (misal: kecelakaan kendaraan, masuknya
benda keras/tajam/cairan kimia yang masuk ke dalam mata)
b. Anak dengan Gangguan Pendengaran (Tunarungu)
Anak tunarungu memiliki gangguan pendengaran, baik sebagian maupun
total. Faktor penyebabnya bisa berasal dari:
1) Dari dalam kandungan (seperti infeksi rubella)
2) Saat lahir (misalnya kekurangan oksigen)
3) Setelah lahir (akibat penyakit seperti meningitis atau cedera kepala).
Gangguan ini mempengaruhi kemampuan mendengar dan
berkomunikasi secara verbal.
c. Cerebral Palsy
Anak dengan cerebral palsy mengalami gangguan pada gerak dan
postur tubuh akibat kerusakan otak yang terjadi saat kehamilan,
kelahiran, atau setelah lahir. Penyebabnya bisa karena:
1) Infeksi selama kehamilan
2) Persalinan yang sulit
3) Cedera otak saat bayi
2. Anak Berkebutuhan Khusus Kognitif
a. Intellectual Disability
Terdapat dua faktor penyebab ID, yaitu:
1) Faktor internal, mencakup:
a) Maternal malnutrition atau malnutrisi pada ibu. Hal ini disebabkan
selama kehamilan, ibu tidak memperhatikan pola makan yang
sehat.
b) Keracunan atau konsumsi zat-zat berbahaya, antara lain kokain,
tembakau, dan alcohol saat ibu hamil, sehingga mengakibatkan
terjadinya kerusakan pada plasma inti janin.
c) Kerusakan pada otak saat bayi lahir, dikarenakan oleh penggunaan
alat bantu dan lahir prematur.
d) Panas yang terlalu tinggi akibat penyakit infeksi, typhus, cacar.
2) Faktor eksternal, mencakup:
a) Radiasi, misalnya sinar X atau nuklir.
b) Pengaruh lingkungan dan kebudayaan, misalnya anak yang
dibesarkan di lingkungan yang buruk, kasus-kasus abusive,
penolakan, atau kurang stimulasi yang ekstrim dapat berakibat
pada ID.
b. Kesulitan Belajar Spesifik (Specific Learning Disabilities/ SLD)
1) Genetis
2) Luka pada otak
3) Perkembangan otak
3. Anak Berkebutuhan Khusus Perilaku (Hambatan Perilaku)
a. Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
1) Faktor Genetik dan Biologis
Apabila orangtua mengalami ADHD maka sebagian anak
mereka memiliki kemungkinan untuk mengalami gangguan
tersebut. Gen transporter dopamine (DAT) dan gen reseptor
dopamine D4 (DRD4-7) menurut penelitian ditengarai sebagai
C. Identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus
Identifikasi ABK diperlukan agar keberadaan mereka dapat diketahui
sedini mungkin. Identifikasi merupakan langkah awal dan sangat penting untuk
menandai munculnya kelainan atau kesulitan pada anak berkebutuhan khusus.
Istilah identifikasi anak dengan kebutuhan khusus dimaksudkan sebagai usaha
orang tua, guru, maupun tenaga kependidikan lainnya untuk mengetahui apakah
seorang anak mengalami kelainan/penyimpangan pertumbuhan/ perkembangan
(fisik, intelektual, sosial, emosional/tingkah laku) dibandingkan dengan anak
normal seusianya. Pada tahap klasifikasi, kegiatan identifikasi bertujuan untuk
menentukan apakah anak yang telah dirujuk ke tenaga profesional benar-benar
memerlukan penanganan lebih lanjut atau langsung dapat diberi pelayanan
pendidikan khusus. Apabila berdasar pemeriksaan tenaga profesional ditemukan
masalah yang perlu penanganan lebih lanjut (misalnya pengobatan, therapy,
latihan-latihan khusus, dan sebagainya) maka guru tinggal mengkomunikasikan
kepada orang tua siswa yang bersangkutan7Berikut identifikasi anak berkebutuhan khusus berdasarkan buku psikologi anak
berkebutuhan khusus8
:
1. Anak Berkebutuhan Khusus Fisik
a. Anak dengan Gangguan Penglihatan (Tunanetra)
Untuk mengenali anak yang mengalami kerusakan dalam
penglihatannya bergantung pada tingkat parah atau tidaknya kerusakan
yang dialaminya. Anak yang terlihat tidak bereaksi pada mainan yang
berwarna cerah, patut dicurigai. Begitu pula kondisi seperti katarak, bola
mata yang terlalu besar atau terlalu kecil. Ada beberapa cara dalam
melakukan proses identifikasi, yaitu melalui:
1) Skrining
Skrining dapat dilakukan melalui observasi baik oleh orang tua
maupun guru, dimana melalui skrining diharapkan dapat diketahui
apakah anak terindikasi mengalami gangguan penglihatan atau tidak,
dengan demikian memungkinkan orang tua untuk menyadarinya.
Skrining dapat dilakukan dengan mengenali tanda-tanda/ karakteristik
gangguan mata: sulit dalam membaca atau melakukan sesuatu,
memegang buku dekat ke mata, tidak dapat dengan jelas melihat
sesuatu pada jarak tertentu (walaupun dekat dengan mata),
memajukan kepala, menggosok-gosok mata, sering mengedipkan
mata, juling, mata kemerahan, bengkak seperti radang, mata berair,
keluhan mata terasa panas dan gatal, pusing kepala, penglihatan tidak
jelas/kabur. Apabila anak menunjukkan gejala-gejala tersebut, maka
perlu dievaluasi lebih lanjut.
2) Penanganan oleh tenaga ahli dan kelanjutannya
Penanganan oleh tenaga ahli merupakan langkah lanjutan setelah
guru atau orang tua mencurigai adanya tanda-tanda anak
berkebutuhan khusus. Anak akan dirujuk ke tenaga profesional seperti
psikolog, dokter, terapis, atau ahli pendidikan khusus untuk dilakukan asesmen yang lebih mendalam. Hasil asesmen ini digunakan untuk
menentukan jenis kebutuhan khusus yang dimiliki anak. Setelah itu,
disusun program pendidikan individual (PPI) atau intervensi yang
sesuai dengan kondisi anak. Proses ini harus melibatkan kerja sama
antara ahli, sekolah, dan keluarga agar dukungan yang diberikan tepat
sasaran dan berkelanjutan untuk perkembangan optimal anak.
b. Anak dengan Gangguan Pendengaran (Tunarungu)
Pada umumnya anak tunarungu memiliki intelegensi normal dan
rata-rata, namun prestasi anak tunarungu seringkali lebih rendah daripada
prestasi anak normal karena dipengaruhi oleh kemampuan dalam
menangkap pelajaran secara verbal. Pada pelajaran yang tidak
diverbalkan, anak tunarungu memiliki perkembangan yang sama
cepatnya dengan anak normal. Menurut Tellford dan Sawrey (1981,
dalam Mangunsong 2009), ketunarunguan tampak dari simtom-simtom
seperti : ketidakmampuan memusatkan perhatian yang sifatnya kronis,
kegagalan berespons apabila diajak berbicara, terlambat berbicara atau
melakukan kesalahan artikulasi, mengalami keterbelakangan di sekolah.
Pemeriksaan medis dengan Tes BERA (Brainstem Evoked Response
Audiometry) yang dilakukan oleh dokter juga perlu dilakukan untuk
menegakkan diagnosa adanya gangguan pendengaran.
c. Cerebral Palsy
Identifikasi gangguan cerebral palsy dapat dilakukan melalui
pengamatan/observasi terhadap ada/ tidaknya karakteristik-karakteristiK.
2. Anak Berkebutuhan Khusus Kognitif
a. Intellectual Disability
Anak dengan Intellectual Disability adalah anak yang memiliki
kemampuan berpikir dan menyelesaikan masalah yang lebih lambat
dibandingkan teman sebayanya. Anak ini biasanya mengalami kesulitan
dalam belajar, memahami informasi, berkomunikasi, serta mengurus diri
sendiri. Ciri-ciri yang dapat diidentifikasi antara lain:
1) Kesulitan dalam memahami pelajaran di sekolah.
2) Sulit mengikuti instruksi atau perintah yang agak rumit.
3) Perkembangan bahasa dan bicara lebih lambat.
4) Memerlukan bantuan dalam aktivitas sehari-hari, seperti
berpakaian atau makan.
5) Daya ingat terbatas dan sulit memahami sebab-akibat.
b. Kesulitan Belajar Spesifik (Specific Learning Disabilities/ SLD)
Anak dengan kesulitan belajar spesifik adalah anak yang memiliki
kecerdasan normal, tetapi mengalami hambatan dalam satu atau beberapa
bidang akademik tertentu seperti membaca, menulis, atau berhitung.
Ciri-ciri yang dapat diidentifikasi antara lain:
1) Sulit mengenali huruf, membaca kata, atau memahami bacaan
meskipun sudah diajarkan.
2) Tulisan tidak rapi atau susah dibaca.
3) Sulit dalam berhitung, memahami konsep angka, atau
menyelesaikan soal matematika dasar.
4) Bingung membedakan arah (kiri-kanan) atau bentuk huruf yang
mirip (seperti b dan d).
5) Prestasi akademik tidak sesuai dengan usaha dan usia anak.
3. Anak Berkebutuhan Khusus Perilaku (Hambatan Perilaku)
a. Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
Perlu diperhatikan bahwa seorang anak yang diidentifikasi ADHD
harus menunjukan gejala-gejala di atas setidaknya selama enam bulan.
Gejala tersebut juga setidaknya muncul pada usia 12 tahun atau kurang,
selain itu gejala tersebut setidaknya muncul pada dua seting lingkungan
yang berbeda (misanya di sekolah dan di rumah), serta gejala tersebut
menimbulkan gangguan atau penurunan prestasi akademik di sekolah,
ataupun hambatan dalam melakukan atau membina hubungan sosial
mereka.
b. Tunalaras (Gangguan Emosi & Perilaku)
1) Oppositional defiant disorder (ODD)
Dalam bahasa, ODD disebut juga dengan perilaku menantang.
ODD ini memiliki karakteristik: agresif, membangkang, dan terusmenerus mengganggu orang lain. Secara spesifik, ODD dapat dilihat
dari ciri-cirinya sebagai berikut:
a) Mudah kehilangan ketenangan
b) Berdebat dengan orang dewasa
c) Melawan orang dewasa atau aturan yang berlaku
d) Dengan sengaja mencoba mengganggu orang lain
e) Mudah untuk membalas dendam
f) Menyalahkan orang lain untuk perilaku atau kesalahan yang
dilakukan
g) Mudah tersinggung atau mudah menjengkelkan
h) Pemarah, menaruh dendam, dan mudah mengamuk
i) Mudah untuk iri
2) Conduct disorder
Conduct disorder didefinisikan sebagai perilaku repetitif dan pola
yang menetap untuk melanggar norma sosial yang berlaku bagi
usianya. Adapun acuan kriteria diagnostik untuk perilaku CD yaitu:
pola perilaku yang melanggar hak-hak dasar orang lain atau tidak
sesuai dengan norma sosial untuk seusianya, yang terjadi berulangulang dan menetap, ditunjukkan dengan 3 gejala atau lebih pada 12
bulan yang lalu, setidaknya 1 gejala di 6 bulan terakhir diantaranya:
a) Sering mengganggu, mengancam, atau mengintimidasi orang lain.
b) Sering memulai perkelahian fisik.
c) Menggunakan senjata yang menyebabkan luka fisik serius seperti:
dengan tongkat pemukul, batu bata, pecahan botol, pisau dan
pistol.
d) Melakukan kekejaman fisik pada orang lain.
e) Melakukan kekejaman fisik pada hewan.
f) Mencuri yang berhadapan dengan korbannya seperti: merampok,
mengambil dompet, pemerasan dan menyamun.
g) Memaksa seseorang melakukan aktivitas seksual.
h) Membakar sesuatu yang menimbulkan kerusakan serius dengan
tujuan mencari perhatian.
i) Sengaja menghancurkan barang milik orang lain selain membakar.
j) Merusak rumah orang lain, gedung atau mobil.
k) Sering berbohong untuk mendapatkan barang atau meminta
pertolongan atau menghindari kewajiban seperti menipu orang
lain.
l) Mencuri sesuatu yang tidak berharga tanpa menghadapi
korbannya seperti mencuri di toko tetapi tanpa merusak atau
menyelusup dan pemalsuan.
m) Sering keluar rumah pada malam hari meskipun orang tua
melarang, berawal sebelum usia 13 tahun.
n) Melarikan diri dari rumah selama semalam setidaknya dua kali
saat tinggal dengan orang tua atau di rumah sebagai pengganti
orang tua, atau sekali tanpa pulang dalam waktu yang panjang.
o) Sering bolos dari sekolah, berawal sebelum usia 13 tahun.
4. Anak Berkebutuhan Khusus : Autis
Menemukenali gejala autis dapat dilakukan melalui tahapan screening
berikut ini:
a. melakukan observasi pada anak dengan menggunakan beberapa tools/
instrument observasi.
b. Wawancara. Wawancara dilakukan untuk menggali data lebih dalam
mengenai anak kepada orang-orang yang terlibat dalam pengasuhan
subjek sehingga dapat menegakan diagnosis secara lebih tepat.
c. Evaluasi diagnostik melalui pemeriksaan ahli (psikiatri atau psikolog)
dengan melakukan diagnosa banding (membandingkan dengan ciriciri diagnosis dari gangguan yang memiliki ciri-ciri hampir sama).
5. Anak Berkebutuhan Khusus : Cerdas Istimewa
Karena perkembangan anak-anak cerdas istimewa mempunyai
keragaman yang banyak begitupula dengan bentuk-bentuk
disinkronitasnya, maka tidak ada checklist tertentu yang dapat digunakan.
Namun demikian, panduan yang dapat diberikan terhadap perkembangan
anak yang menjadi tanda bahwa ia mempunyai potensi kecerdasan yang
baik adalah bila kita menemukan adanya kondisi-kondisi berikut:
a. Mempunyai skor Apgar yang tinggi, yaitu antara 8-10 pada menitmenit pertama (5-10) saat anak baru dilahirkan.
b. Umumnya lahir lebih berat dari rata-rata anak baru lahir
c. Lebih cepat membangun kontak mata dan membalas senyuman
d. Mempunyai perkembangan motorik kasar dan halus yang lebih
cepat, misalnya: mengambil mainan dengan dua tangan,
mengambil dan memasukkan mainan ke suatu tempat, merangkak,
berdiri dan stabil jika dilepaskan, dan berjalan
e. Sangat waspada, tidak sabaran, dan sensitif (overexcitebilities)
f. Mempunyai daya ingat yang kuat dan imajinasi yang jauh dan
bahkan terkesan bizzare
g. Mempunyai pola hidup yang tetap dan teratur
h. Menuntut banyak perhatian dan seringkali sangat tergantung
i. Perkembangan komunikasi dan kepribadiannya lebih cepat
D. Klasifikasi Anak Berkebutuhan Khusus
Berikut klasifikasi anak berkebutuhan khusus berdasarkan buku psikologi
anak berkebutuhan khusus9
:
1. Anak Berkebutuhan Khusus Fisik
a. Anak dengan Gangguan Penglihatan (Tunanetra)
1) Tunanetra ringan (defective vision/low vision); yakni mereka yang
memiliki hambatan dalam penglihatan akan tetapi mereka masih dapat mengikuti program-program pendidikan dan mampu melakukan
pekerjaan/kegiatan yang menggunakan fungsi penglihatan.
2) Tunanetra setengah berat (partially sighted); yakni mereka yang
kehilangan sebagian daya penglihatan, hanya dengan menggunakan
kaca pembesar mampu mengikuti pendidikan biasa atau mampu
membaca tulisan yang bercetak tebal.
3) Tunanetra berat (totally blind); yakni mereka yang sama sekali tidak
dapat melihat.
b. Anak dengan Gangguan Pendengaran (Tunarungu)
c. Cerebral Palsy
1) Spasticity. Ciri-cirinya: Kontraksi otot kaku tiba-tiba, susah
melakukan gerakan, bagian bawah tubuh menggunting karena
kontraksi otot, gerakan refleks dari lengan dan jari-jari.
2) Athetosis. Ciri-cirinya: Ketegangan otot terjadi, terlihat pada leher
yang kaku, mulut terbuka, dan lidah tidak terkontrol. Cara berjalan
tidak berirama, kata-kata tidak berirama, gerakan otot wajah yang
tidak disengaja.
3) Ataxia. Ciri-cirinya: gerakan tidak stabil, berjalan dengan langkah
tinggi, mudah jatuh, mata tidak terkoordinasi, kombinasi antara
spasticity, athetosis, dan ataxia.
2. Anak Berkebutuhan Khusus Kognitif
a. Intellectual Disability
he American Psychological Association mengklasifikasikan anak
dengan ID berdasarkan tingkat kecerdasan atau skor IQ. Sedangkan
Somantri mengemukakan bahwa anak dengan ID memiliki karakteristik
umum sebagai berikut:
1) Keterbatasan inteligensi
2) Keterbatasan sosial
3) Keterbatasan fungsi-fungsi mental lainnya
b. Kesulitan Belajar Spesifik (Specific Learning Disabilities/ SLD)
3. Anak Berkebutuhan Khusus Perilaku (Hambatan Perilaku)
a. Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
b. Tunalaras (Gangguan Emosi & Perilaku)
4. Anak Berkebutuhan Khusus : Autis
Klasifikasi autis dapat dilihat dari tingkat kemampuan interaksi sosial
dan tingkat intelegensianya. Berdasarkan tingkat kemampuan interaksi
sosial, autis dapat dibedakan menjadi 3 yaitu:
a. Aloof, dengan ciri-ciri: klasik, mojok, berada di dunia sendiri;
b. Pasif, dengan ciri: sepertinya mau bergabung dengan teman tapi tidak
interaktif;
c. Aktif perilaku aneh (active but odd), dengan ciri-ciri: hiperaktif,
perilaku aneh berulang dan sering namun tanpa tujuan, seringkali
tertukar dengan ADHD (oleh karena itu perlu diagnosa banding yaitu
ADHD).
5. Anak Berkebutuhan Khusus : Cerdas Istimewa
Menurut klasifikasi dan jenis kelainan, anak berkebutuhan dikelompokkan ke
dalam kelainan fisik, kelainan mental, dan kelainan karakteristik sosial10
:
1. Kelainan Fisik
Kelainan fisik adalah kelainan yang terjadi pada satu atau lebih
organ tubuh tertentu. Akibat kelainan tersebut timbul suatu keadaan padafungsi fisik tubuhnya tidak dapat menjalankan tugasnya secara normal.
Tidak berfungsinya anggota fisik terjadi pada: alat fisik indra, misalnya
kelainan pada indra pendengaran (tunarungu), kelainan pada indra
penglihatan (tunanetra), kelainan pada fungsi organ bicara (tunawicara)
alat motorik tubuh, misalnya kelainan otot dan tulang (poliomyelitis),
kelainan pada sistem saraf di otak yang berakibat gangguan pada fungsi
motorik (cerebral palsy), kelainan anggota badan akibat pertumbuhan
yang tidak sempurna.
2. Kelainan Mental
Anak kelainan dalam aspek mental adalah anak yang memiliki
penyimpangan kemampuan berpikir secara kritis, logis dalam menanggapi
dunia sekitarnya. Kelainan pada aspek mental ini dapat menyebar ke dua
arah, yaitu kelainan mental dalam arti lebih (supernormal) dan kelainan
mental dalam arti kurang (subnormal).
3. Kelainan Perilaku Sosial
Kelainan perilaku atau tunalaras sosial adalah mereka yang
mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan, tata
tertib, norma sosial, dan lain-lain. Manifestasi dari mereka yang
dikategorikan dalam kelainan perilaku sosial ini, misalnya kompensasi
berlebihan, sering bentrok dengan lingkungan, pelanggaran hukum/norma
maupun kesopanan
Komentar
Posting Komentar